Membatasi dan Menyelesaikan Hubungan (2)
Siapa saja yang pernah membaca biografi Nabi Muhammad SAW pasti pernah
melewati episode kala beliau memaafkan pembunuh pamannya yang tercinta,
Sayidina Hamzah ra.
Wahsyi, pembunuh sang paman, masuk Islam.
Saat seseorang masuk Islam maka sesuai ketentuan Allah SWT, semua
dosanya terhapus, suci bersih bagai bayi yang baru saja dilahirkan
ibunya. Karena itulah maka Rasulullah SAW tentu saja memaafkan kelakuan
masa lampau Wahsyi meskipun pedih getir tetap dirasa juga jika mengingat
pembunuhan sang paman di medan Uhud itu begitu brutal. Tidak hanya
menjadi martir, jenazah suci Sayidina Hamzah ra bahkan juga dirusak oleh
Hindun - yang kemudian hari juga masuk Islam saat Fathu Makkah - untuk
menemukan hati beliau dan memakannya sebagai ekspresi balas dendam.
Saat
itu, adalah saat-saat yang sulit. Sayidina Hamzah ra sebagai salah satu
pilar perjuangan agama terbunuh. Pasukan Islam kocar-kacir, bahkan pipi
mulia Nabi SAW juga terluka dan mengucurkan darah. Kondisi ini,
ditambah kehilangan paman tercinta di saat yang bersamaan, tentu sangat
membekas dalam ingatan dan hati Kanjeng Nabi SAW.
Yang
membuatku tertegun adalah kata-kata Kanjeng Nabi SAW setelah beliau
mengenali yang baru masuk Islam di dekatnya ialah Wahsyi. Dalam Suwar
min Hayatis Sahabah disebutkan bahwa Nabi SAW bertanya:
"Wahsyi?", tanya beliau.
"Benar, wahai Rasulullah"
"Duduk sejenak bersamaku, ceritakan padaku bagaimana engkau membunuh Hamzah"
Kemudian
Wahsyi bercerita panjang lebar mengenai tawaran upah yang akan ia
terima bila berhasil membunuh Sayidina Hamzah. Bagaimana caranya mencari
celah untuk melayangkan tombaknya di kecamuk pertempuran. Bagaimana
pada akhirnya ia melesatkan tombak itu dan menghujam dada suci Singa
Allah, Hamzah bin Abdul Mutthalib.
Usai Wahsyi bercerita, memori
Rasulullah SAW tentu mengingat kembali masa-masa sulit dan betapa ia
mengasihi paman tercintanya itu. Sebagai manusia biasa - yang tentu juga
luar biasa - pedih getir terasa kembali sehingga pada akhirnya meski
Rasulullah SAW memberinya maaf, beliau berkata:
"Sedapat mungkin, jauhkan dirimu dariku, aku tidak mau melihat wajahmu"
[ HR. Ibnu Hibban no. 7017 ]
Beliau memaafkan, tapi tidak melupakan.
Beliau memutuskan untuk membatasi hubungan.
Karena kadang memang ada yang benar-benar tidak bisa ditoleransi demi ketenangan hati dan jiwa diri sendiri.



Komentar
Posting Komentar