Membatasi dan Menyelesaikan Hubungan (1)

 

Suatu hari seorang teman bertanya:

"Apa bukan mutus tali silaturrahim namanya, kalau menolak atau pada akhirnya enggan berhubungan lagi dengan orang ini?"

Sebelumnya dia curhat tentang temannya yang sering pinjam uang tapi nggak pernah dikembalikan. Bukan karena benar-benar tidak mampu, wong dia pamer via IG dan SW-- beli macam-macam dan plesiran kesana-kemari dengan riang gembira.
Apa kabar hutang?

"Enggak", jawab saya enteng.
"Sudahi saja, kasihan hati dan jiwamu. Gausah berhubungan lagi, blokir nomernya", kataku lagi.

"Tapi ini terhitung mutus silaturrahim ga Met?", cemasnya. "Bisa bikin pendek umur dan mutus rezeki"

"Umurmu sudah makin pendek karena kamu mbatin terus tentang dia yang nggak bayar-bayar hutang tapi malah pamer beli ini itu dan jalan kemana-mana. Capek nggak?"

"Iyasih"

"Rezeki bisa dicari, dibuat berkah berkelimpahan tidak hanya lewat ngutangi orang. Kamu bisa sedekah ke orang yang benar-benar butuh, memberi pinjaman lunak ke yang benar-benar ga mampu, poinnya asalkan mereka amanah. Bisa juga sumbang masjid, kasih makan hewan..."

"Lhoiya ya?"

"Iya!, terkadang orang butuh dikasih tahu biar mereka tau diri. Dia pikir dia siapa?"

"Ya temen"

"Tapi toxic" :v

Aku sendiri seringkali sadar diri. Jika seseorang sudah tidak berminat untuk melanjutkan tali silaturrahim denganku, akupun dengan sebaik mungkin mengundurkan diri. Sadar diri terlebih dahulu, penting buatku. Emang aku siapa? wkwk

Tahu tempe memang baik, tapi lebih baik, tahu diri. 

 Repotnya, aku seringkali juga ga sadar diri :'(

Komentar

Postingan Populer