Daftar Tunggu Haji ( 2 )

 


Suatu hari di bulan Maulid tahun 2018

Kami, saya dan bapak, menghadiri undangan maulid Nabi di sebuah masjid di Bermis. Acaranya habis jumatan, dan saya seumur-umur maulidan di Lombok baru kali itu maulidan siang hari sehabis Jumatan. Biasanya sih maulidan di Lombok itu malam hari. Pikir saya ya mungkin maulidnya ini sekedar ceramah singkat belaka.

[ Agak aneh bagi saya, di Lombok, sehabis Jumatan alih-alih makan siang dengan nikmat lalu dilanjut tidur siang, malah hadir di acara maulid. Ini, atau saya yang memang aneh? ] 

Ternyata maulidnya bukan ceramah singkat. Selain sambutan dan pertunjukan ceramah dwi bahasa dari siswa madrasah sekitar, ustaz yang menyampaikan ceramah ternyata menyampaikan ceramah yang panjang lebar dan ideal karena jamaah turut tenggelam dalam penyampaian beliau tentang rindu. 


Rindu pada Nabi Muhammad SAW. 

Uniknya beliau hanya bercerita dengan bahasa yang paling sederhana tentang kehidupan masa kecilnya di sebuah dusun di pelosok Sakra, Lombok Timur. Masa lalu dengan segala keterbatasan dan kekurangan, perjalanan hidup saat belajar agama, sampai suatu masa dimana beliau pada akhirnya menginjakkan kaki di tanah suci; belajar agama di sana dan menziarahi Sang Nabi di kotanya yang mulia. 

"Sejak kehadiran Nabi di Yatsrib, kota itu berubah nama menjadi Madinatun Nabi, Kota Sang Nabi, dan mendapat gelar lain Al-Munawwarah, Madinatul Munawwarah, Kota Yang Memancarkan Cahaya. 

Hari ini kita mendapatkan pancaran cahaya itu, cahaya agama yang dibawa Nabi Muhammad SAW. Semogalah kita semua, tiang, pelungguh, dapat berziarah ke Madinah dan menghaturkan salam di depan; di dekat makam Rasulullah SAW"

Para hadirin mengucapkan aamiin, aamiin, dan saya menyadari bahwa bapak menengadahkan tangan dengan tertunduk; pundaknya bergetar. Beliau menangis tersedu-sedu. 

Saya amat sangat jarang melihat bapak menangis seperti itu. Terakhir di suatu pagi, keesokan hari setelah penguburan Allahyarham Mbah Dikin, lebih dari satu dasawarsa yang lalu. 


Bagi para penanti daftar tunggu berangkat haji, hal-hal yang memantik emosi spiritual mereka tentang apapun yang berkaitan dengan dua tanah suci, apalagi sosok Sang Nabi, akan membuat gemuruh di dada dan mengaduk-aduk perasaan. Ada banyak air mata yang bercucuran dalam penantian ini,  dan ada lebih banyak lagi kesabaran yang dipupuk untuk mematangkan mental saat tiba waktunya berangkat nanti.


Ada banyak muslim Indonesia yang seperti bapak. Mendaftar haji sesuai kemampuan, menghayati antrian berangkat dengan rasa syukur dan kesabaran, serta hari demi hari demi Baitullah dan sowan kanjeng Nabi mereka memupuk kerinduan.


Itu kenapa saya sendiri kemudian akhir-akhir ini agak emosional bila mendengar Ba'ed 'Annak -nya Umi Kultsum.

بعيد عنك ...... حياتي عذاب

ما تبعدنيش بعيد عنك

ماليش غير الدموع احباب


Jauh darimu, hidupku rasa tersiksa

Jangan pergi jauh dariku

Karena aku tak punya apa-apa, kecuali cucuran air mata 


Makin jengkel gegara Kementrian Agama di tahun 2024 ini malah bermain-main dengan kuota haji.

Celaka sekali karena mereka berkhianat pada para perindu yang tekun ini, celaka sekali!



Komentar

Postingan Populer