PANORAMA KOTA PLERED
Plered merupakan salah satu kota dari rangkaian ibukota Mataram Islam yang dikatakan paling indah dan paling
cantik. Saya seringkali membayangkan jika seandainya kota ini bertahan sampai
detik ini, dengan baluwarti dan tata kotanya yang dikelilingi rangkaian bunga air,
niscaya dia akan mewarisi kemegahan Trowulan dan bakal menjadi ibukota kerajaan
yang paling eksotis dan mengagumkan se tanah Jawa ( mungkin ).
Betapa tidak?,
bayangkanlah sebuah kota tradisional Jawa dengan gemericik air yang mengalir di
kanal-kanal yang mengelilinginya, diselingi perkampungan penduduk atau hamparan
sawah-sawah maha luas dan kebun-kebun yang hijau. Tambahi itu semua dengan keberadaan
Segoroyoso, anugerah dibendungnya sungai Opak sehingga membentuk laut buatan di
sebelah selatan istana raja. Bukankah jika pagi menjelang maka kabut akan
meruap di seluruh kota dan penduduknya akan bangkit dalam kesegaran yang kece?!
Kota Penuh
Kutukan
“Dan takutlah kalian kepada doa kutuk orang yang terdzhalimi”
(Nabi Muhammad Shallallaahu alaihi wa sallam)
Plered
dibangun oleh Susuhunan Amangkurat I atau Amangkurat Agung (1645-1677). Berbeda
dengan ayahnya, Sultan Agung Hanyakrakusuma yang bertahta di keraton sederhana
di daerah Kerta, Amangkurat I menghendaki ibukota baru yang keren dan
mentereng. Jangan pikir pada masa itu sudah ada korporesyen dengan para insinyur,
arsitek, sekaligus pekerja handal yang siap mewujudkan keinginan kliennya. Dengan tangan besi diperintahlah rakyatnya untuk
melaksanakan apa yang diingikannya dan menjadikan mereka sebagai bantalan kaki
ambisi pembangunan ibukota baru yang dicita-citakannya.
Setelah
rampung, ibukota baru itu memang indah.
Kedzhaliman
part I : Doa Kutuk Rakyat Jelata
Tapi tahukah
kalian bahwa tembok bata yang dikatakan oleh Babad Mamona berbentuk belah
ketupat setinggi 5-6 m dengan ketebalan 1,5 m, dengan bata merah dan batu alam
putih itu dibangun dengan cucuran darah dan air mata rakyat jelata Mataram? Diambil
paksa dari kampung halamannya yang tercinta, dipekerjakan di ibukota dengan sedikit sekali waktu jeda, mencetak batu bata yang ukurannya tidak biasa, menyusunnya
satu demi satu, dicambuki dan dicaci maki. Jangankan upah harian atau bulanan
sesuai UMR, buat jajan sepeserpun tak ada. Memendam rindu pada ternak, sawah, ladang, dan
keluarga. Apatah lagi yang bisa dilakukan kecuali bersabar atau jika sudah tak
kuasa maka menengadahkan tangan lalu menjatuhkan kutuk dalam doa?
Kedzhaliman
part II : Doa Kutuk Para Ulama
Pangeran Alit,
anggota keluarga kerajaan, adik Amangkurat I sendiri yang dikatakan alim dan
bersahaja menentang kesewenang-wenangan abangnya. Sebelum ini Mas-nya sudah
membantai kurang lebih 3000 bawahan senior mendiang ayah mereka demi menjamin tidak
adanya bisik-bisik perlawanan pada sang raja, lalu kini menindas rakyat sendiri
tanpa berpikir tentang keluhuran budi dan dosa. Bukankah ayah tercinta mereka
dikenal dengan nama Sultan Agung karena kebesaran dan keluhuran pribadinya
sehingga dicintai para kawula?
Bangkitlah
Pangeran Alit melawang sang kakak, didukung penuh ribuan alim ulama yang
bersimpati dan tak kuasa menyaksikan rakyat kecil penuh derita. Sayangnya
Amangkurat I terlalu licin untuk digulingkan. Pangeran Alit ditangkap dan di bunuh
didepan sang kakak disaat ia sudah sampai di antara alun-alun utara dan gerbang
istana. Jasadnya dikebumikan di pemakaman Banyusumurup, kuburan para
pemberontak dan penentang raja. Seiring peristiwa itu Amangkurat I murka bukan
kepalang. Mengesampingkan kedzhalimannya sendiri sebagai sebab utama penentangan
adiknya, ia menuduh para ulama sebagai pupuk pada benih pemberontakan. Ia
lantas menciduk paksa sekitar lima sampai enam ribu ulama berikut keluarga
mereka. Babad Tanah Jawi menceritakan dengan sedih bagaimana mereka dikumpulkan
di alun-alun kota Plered lantas ditebas batang leher mereka sehingga
menggelindinglah kepala-kepala bersurban disertai ratap tangis keluarga yang juga
akan dieksekusi setelahnya. Siapa yang menjamin bahwa tidak ada doa kutuk yang
dipanjatkan di lapangan penuh kepala dan darah itu?
Ironisnya,
sang raja menyaksikan semuanya tanpa berpikir tentang dosa.
Kedzhaliman
part III : Doa Kutuk Wanita Istana
Keindahan
Plered dibarengi dengan hasrat Sang Raja akan keindahan wanita. Kisah-kisah
tragis justru muncul dari hasrat sang raja dalam tema kaum hawa. Bagaimana ia
merebut Nyai Truntum, sinden ternama bersuara cemerlang dari suaminya yang
seorang dalang kondang, Ki Panjang Mas.
Terpesona pada
kecantikan dan terperdaya bisik-bisik para pembisik aka penjilatnya yang
mengatakan bahwa wibawa sang sinden dapat mengukuhkan tahtanya, ia merencakan
pagelarang wayang semalam suntuk di istana dengan menghadirkan dalang Ki Panjang
Mas beserta nyonya sebagai sindennya. Konon, lakon yang dibawakan pada malam
itu adalah lakon yang tidak boleh berhenti saat dimainkan, walau apapun yang
terjadi. Jadilah malam itu wayang dimainkan dan skenario malam perebutan istri
orang itu berjalan. Lewat tengah malam lampu minyak yang menyala di atas Sang
Dalang mendadak jatuh dan saat itulah “walau apapun yang terjadi” mengakhiri
hayat Ki Panjang Mas beserta para pengrawitnya yang teguh mengiringi Ki Panjang
Mas sampai nafas terakhir.
Walhasil Nyai
Truntum akhirnya jatuh ke pelukan Amangkurat I dan digelari Ratu Wetan. Keberadaanya
di istana sebagai ratu sekaligus sinden yang teguh memelihara keluhuran etika
dan budaya Jawa, plus kecantikan yang mempesona tiada tara membuat sang raja
betah berlama-lama di sisinya.
Lalu istri dan selir yang lain bagaimana?
Ohooo terbitlah
cemburu buta. Ratu Wetan digelari Ratu Malang yang bermakna ratu yang memalangi/menghalangi
para wanita istana lain yang mencoba menarik perhatian sang raja. Sedihnya, beliau benar-benar menjadi ratu yang malang pula pada akhir hidupnya.
Persaingan
para wanita istana demi menjamin kartu kedudukan mereka di sisi raja dan
ketinggian derajat mereka di antara sesama kembang istana membuat intrik
terjadi lagi. Ratu Malang mendadak berpulang ke rahmatullah. Para tabib istana
yang diperintahkan meneliti sampel yang mereka ambil dari tubuh sang ratu
mengindikasikan racun telah dibubuhkan pada sirih yang dipakai sang ratu untuk
menginang. Jelas Amangkurat I murka luar biasa. Selama ini istananya
dikelilingi para punggawa dan algojo setia, istananya memiliki sistem keamanan tingkat tinggi untuk
menghalangi segenap bencana dan serangan dari luar namun bencana itu justru muncul dari
rumah tangganya sendiri.
Dengan urat
leher dan panas di ubun-ubun, dengan titah-murkanya, diseretlah seratusan
penghuni Keputren dan digelandang keluar istana. Tidak hanya itu, para punggawanya
diperintahkan mencari siapa saja yang dicurigai terlibat dengan pembunuhan ini
di seluruh kota lalu membawa mereka untuk bergabung dengan para wanita istana
yang lantas dikurung di kuburan berhari-hari tanpa makan maupun minum sehingga mereka
pelan-pelan mati kelaparan. Apakah bukan doa kutuk lagi yang dipanjatkan oleh mereka
yang tidak bersalah?
Di sisi yang
lain, banyak versi cerita yang agak scary berkaitan dengan polah Amangkurat I
terhadap jenazah Ratu Malang. Konon ia tidak berkenan memakamkan jenazah Ratu
Malang selama beberapa hari dan tetap tidur dengannya di peraduan seperti
biasa. Setelah dimakamkan-pun, ia menolak pulang dan memilih tidur di samping
makam sang istri sampai akhirnya ia mau pulang ke istana setelah dibujuk oleh pamannya
yang wicaksana, Raden Purbaya (yang makamnya di Wotgaleh, deket bandara). Ada
juga yang mengatakan bahwa ia mau pulang ke istana setelah bermimpi melihat Nyai
Truntum sudah bertemu dan bersatu lagi dengan suaminya terdahulu, Ki Panjang
Mas. Mereka berdua dimakamkan di Gunung Kelir dekat ibukota Plered yang
jaringan kanal dan jalannya mencapai tempat itu juga.
Kedzhaliman
part IV: Doa Kutuk Keluarga
Sepeninggal Nyai Truntum, para penjilat yang melihat hari-hari sang raja yang
bermuram durja membujuknya untuk mencari tambatan hati yang baru. Dicarilah dan
setelah ketemu, dibawalah seorang gadis kecil peranakan Tionghoa bernama Rara
Hoyi yang cantik jelita dari wilayah Kali Mas, Soerabaja. Yang membawa gadis
itu bahkan adalah mertua sang raja sendiri dari istri pertamanya, beliau adalah
Pangeran Pekik yang dihormati oleh warga Brang Wetan. Maka dipingitlah Rara
Hoyi di Ndalem Wirarejan, rumah bangsawan Tumenggung Wirareja di luar tembok
istana sampai nanti sang gadis matang dan siap untuk dihaturkan ke keraton.
Sungguhlah
memang jodoh itu di tangan Allah, Hayati...
Justru
Pangeran Adipati Anom, sang putra mahkota, anak kandung Sang Amangkurat sendiri
yang jatuh hati pada calon ibu tirinya itu saat ia berkunjung ke Ndalem
Wirarejan dan tanpa sengaja melihat gadis Cina itu tengah membatik. Saat sang
pangeran muda Jawa beradu pandang dengan gadis muda Cina, maka jatuh hatilah
sang pemuda dan mau-mau malu-lah sang gadis Cina dengan pipi bersemu merah lalu
bangkit dan berlari kecil sambil menutup muka.
Perjumpaan
singkat itu membuat bunga cinta di hati Pangeran Adipati Anom tumbuh liar bagai
semak Edelweis sehingga ia kasmaran dan jatuh lara. Sakit wuyung kata orang Jawa.
Pengennya ketemuan terus tapi tak mampu. Lagipula belum ada Wasap sehingga
tidak bisa live chat. Kangen mau melihat wajah manisnya juga belum ada Instagram
yang bisa discroll sesuka hati. Kalaupun di privat, tak apalah, kurela follow agar
tiada sekat. Bukankah kalau sudah kadung cinta sirup marjan-pun berasa coklat?
Sakit itu
bertambah parah setelah sang pangeran muda tamvan mengetahui bahwa gadis
pujaannya adalah sengkeran alias simpanan ayahnya sendiri. Duh biyung bukankah
yang muda cocoknya juga sama yang muda? Apakah ayahnya lupa umur atau bagaimana?!
Raden Ayu
Wandansari, eyang putri sang pangeran, demi melihat kondisi sang cucu tercinta
kemudian memohon kepada suaminya, Pangeran Pekik, agar sudilah kiranya
memperkenankan Roro Hoyi diboyong ke Kesatrian (komplek tempat tinggal para
pangeran) agar tinggal berdekatan dengan kediaman Pangeran Adipati Anom.
Pangeran Pekik, sebagai eyang yang bijaksana dengan teduh menyetujui permintaan
itu dengan pertimbangan bahwa sebagai seorang ayah, Amangkurat I sudah pasti mafhum
dan mengalah. Bukankah “Ora ono macan arep tegel mangan gogore”? (Tidak
ada harimau yang tega memangsa anak sendiri).
Sayang beribu
sayang Amangkurat I bukan macan. Ia murka dan geram. Apalagi mengetahui bahwa
Roro Hoyi membalas cinta putranya. Makin blingsatan dia. Di caci makilah
mertuanya sendiri beserta rombongan keluarganya yang hadir di istana memohon
izin perihal asmara Pangeran Adipati Anom dan Roro Hoyi. Ala Amangkurat I, vonis pun dijatuhkan. Hukuman mati. Mereka semua harus mati!. Pangeran Pekik,
Tumenggung Wirareja, beserta enam puluh keluarga dan pengikutnya dieksekusi
mati pada 21 Februari 1269. Jenazah mereka dimakamkan di Banyusumurup menyusul
Pangeran Alit.
Apakah ada doa kutuk lagi dari mereka yang
tiada bersalah ini? Ah...
Pangeran
Adipati Anom sendiri mendapat hukuman khusus untuk membunuh Rara Hoyi tercinta
dengan keris pusakanya. Ini hukuman berat luar biasa. Bayangkanlah adegan penuh
emosional saat sang pangeran beradu pandang dengan putri Cina yang dengan mata
sembap menatap nanar pada keris yang terhunus di tangan sang kekasih. Kau bisa
mendengar jerit hati Sang Pangeran dan teriakan jiwanya yang mengulang kembali
memori lama saat mereka pertama kali berjumpa.
“Dulu kutatap engkau dengan hati berbunga, dengan
canting di tangan halusmu, alangkah pilunya kini kau tatap aku dengan hati
kelabu, dengan keris terhunus di tangan kekarku”
Lama Sang
Pangeran tidak menuntaskan tugasnya sampai akhirnya Rara Hoyi sendiri yang bangkit,
berlari, dan dengan ikhlas menubrukkan dirinya pada keris pusaka Pangeran
Adipati Anom.. Tewaslah sang kekasih di tangan sang kekasih. Darahnya mengalir
sepanjang kelokan keris lalu menganak sungai di lekuk urat tangan sang
pangeran. Bukankah ia melihat sendiri dengan sangat dekat wajah sendu putri
Cina itu di tarikan nafas terakhirnya?
Meledaklah
tangisan dan penyesalan sang pangeran. Dipeluknya tubuh gadis yang dicintainya
dengan sepenuh hati itu dengan lelehan air mata di pipi. Derita cinta jenis
apalagi ini?! Kedzhaliman model apa lagi yang menusuk jiwa ini?!
Kalkulasikan
saja doa kutuk dari banyak pihak ini!
Tahun 1665
Amangkurat I
terpuruk. Jasmaninya sakit, rohaninya juga. Di usia 50 tahun dimana semestinya
ia sudah menjadi raja yang wicaksana namun apa yang terjadi malah sebaliknya. Beragam
peristiwa yang melibatkan kekejaman dan kenyelenehan pola pikirnya berakibat
buruk pada gaya hidupnya. Ia malah makin gemar menjatuhkan hukuman kejam,
sabung ayam, berjalan-jalan belaka, dan yang paling epic adalah main layangan.
Bahkan ada kejadian dimana layang-layangnya tersangkut pohon di alun-alun utara
sehingga dengan entengnya ia memerintahkan agar semua pohon beringin dan pinus
yang mengganggu layangannya ditebang saja.
Singkatnya ia
makin dibenci dan dijauhi para aristokrat dan juga segenap rakyat Mataram.
Tahun 1677, pemberontakan Trunojoyo berhasil menguasai Istana Plered dan
memaksa Amangkurat I melarikan diri sampai wafat di daerah Tegalarum, Ajibarang,
Tegal. Trunojoyo menjarah Istana Plered dan meninggalkannya dalam keadaan porak
poranda dan rusak berat. Setelah itu Plered juga diwarnai perang saudara
perebutan tahta sehingga membuatnya luluh lantak. Belakangan setelah Pangeran
Adipati Anom mutlak naik tahta dengan gelar Amangkurat II, ia memindahkan
ibukota ke daerah Kertasura karena wilayah Plered sudah dianggap sial dan penuh
kutukan.
Tahun 1826
Reruntuhan
tembok besar Istana Plered menjadi ajang pertempuran antara 2.000 pasukan
Pangeran Dipanegara dengan 4.200 pasukan Belanda dalam rangkaian Perang Jawa. Reruntuhan
itu menjadi benteng batu terakhir bagi pasukan Pangeran Dipanegara dimana
pasukan pangeran kalah telak dan dibantai dengan brutal di antara
dinding-dinding, sawah, dan semak-semak. Apakah kutukan itu masih bertahan
sampai saat itu? Wallahu a’lam
Namun kini bangunan
hebat dari masa Amangkurat I semuanya sudah rata dengan tanah dan hanya
menyisakan beberapa reruntuhan. Yang lumayan bisa terlihat hanyalah bangunan
paling akhir yang didirikannya di Gunung Kelir untuk memuliakan makam Ratu
Malang istri tercintanya yang dinamakan dengan Astana Antakapura atau Istana
Kematian. Plered menjadi salah satu ajang imajinasi saya tentang sebuah kota
Jawa tradisional yang indah dengan tata kota yang apik terlepas dari kisah
apapun yang mengiringinya.
Gambar
Ibukota Plered
Di caption Instagram saya menulis:
“Kutagara
Plered, dibangun pada tahun 1647 oleh Susuhunan Amangkurat I putra penguasa
terbesar Dinasti Mataram Islam di tanah Jawa, Sultan Agung Hanyakrakusuma. Saya
belum mengakses Babad Momana, Babad Sengkala, ataupun Serat Kandha untuk
menggambar kota ini agar lebih dekat kepada bentuknya yang asli, demikian pula
sumber dari penulis Belanda seperti laporan H.J. De Graaf. Jadi mohon
maklumilah jika banyak kesalahan dimana-mana. Menurut saya, kota ini adalah
ibukota Mataram Islam yang paling indah dan paling megah meskipun sekarang
tebaran bekas-bekasnya hanya sedikit yang tersisa.
Diselesaikan
pada Sabtu Saniscara/Pon, 16 Ruwah 1950 / 16 Syaban 1438 H / 13 Mei 2017 mangsa
Karolas Asuji, ing Ndalemipun Eyang Sugimin Demangan Kidul Ngayogyakarta
Hadiningrat.
Ya jadi
ceritanya begitu. Haha.
Sampai hari
ini saya juga belum-belum berkesempatan ke Plered. Saya mengandalkan imajinasi,
membaca beberapa buku dan blog, juga kartografi lama tentang Plered Amangkurat
I. Sebetulnya saya menggambar ini setelah saya membaca novel Gadis-gadis
Amangkurat yang sedang ngetrend di kalangan teman-teman pada
waktu itu. Ada beberapa gambar lagi yang direncanakan yang akan dibuat dengan
tema Mataram Islam secara umum atau Yogyakarta Hadiningrat pada khususnya.
Setelah dulu Masjid Agung Mataram Kotagede, Kuthagara Plered, lalu apalagi? Wkwk,
masih direncanakan dan sudah ada dalam draft.
Pelan-pelan.



Komentar
Posting Komentar