MAJELIS MINUM KOPI
Akhirnya miniatur
tentang minum-minum kopi selesai juga.
Sebenarnya sketsa gambar ini sendiri sudah digarap
dari tahun lalu (wogh!) yang terbengkalai karena saya sok sibuk dengan banyak
kegiatan yang entah kenapa semuanya ditarget dengan tenggat waktu yang
edan-edanan. Inspirasinya dari sebuah syair tentang kopi karya seorang ulama
kenamaan asal Yaman: Al-Habib Abu Bakr bin Abdulloh al-Idrus rahimahullah
ta'ala.
Beliau mengungkapkan pujiannya pada sensasi ngopi-ngopi dengan untaian
syair yang salah satunya berbunyi:
قَهْوَةُ الْبُنِّ يَا أَهْلَ الْغَرَامْ سَاعَدَتْنِيْ عَلَى طَرْدِ الْمَنَامْ
قَافُهَا الْقُوْتُ وَ الْهَاءُ الْهُدَى وَاوُهَا الْوُدُّ وَ الْهَاءُ هِيَامْوَ أَعَانَتْنِيْ بِعَوْنِ اللهِ عَلى طَاعَةِ اللهِ وَ الْعَالَمُ نِيَام
لاَ تَلُوْمُوْنِيْ عَلَى شُرْبِيْ لَهَا إِنَّهَا شُرْبُ سَادَاتٍ كِرَامٍ
“Adapun kopi,
wahai orang-orang yang asyik dalam cinta sejati dengan-Nya, membantuku mengusir
kantuk
Dengan pertolongan Allah, kopi menggiatkanku taat beribadah kepada-Nya di kala orang-orang sedang terlelap.
Qahwah (kopi), huruf qaf-nya bermakna quut (sayur hijau yang menyenangkan), ha-nya adalah hudaa (petunjuk), wawu-nya adalah wud (cinta), dan ha-nya adalah hiyam (pengusir kantuk).
Janganlah kau mencelaku karena aku minum kopi, sebab kopi adalah minuman para junjungan yang mulia"
Dengan pertolongan Allah, kopi menggiatkanku taat beribadah kepada-Nya di kala orang-orang sedang terlelap.
Qahwah (kopi), huruf qaf-nya bermakna quut (sayur hijau yang menyenangkan), ha-nya adalah hudaa (petunjuk), wawu-nya adalah wud (cinta), dan ha-nya adalah hiyam (pengusir kantuk).
Janganlah kau mencelaku karena aku minum kopi, sebab kopi adalah minuman para junjungan yang mulia"
Selain
itu saya juga terpacu untuk menggambarkan situasi ngopi setelah membaca-baca
kembali sebuah artikel tentang sejarah perkafean di dunia Islam yang dimuat
dalam Aramco World vol 6 no. 3 tahun 2013 silam yang disebut-sebut sebagai
pelopor jejaring sosial bagi masyarakat muslim. Artikel itu memuat sebuah
gambar miniatur yang mengilustrasikan suasana kafe pada zaman Dinasti Utsmani –dimana
interaksi sosial terjadi dalam suasana yang hangat. Persis seperti yang
digambarkan oleh Jason Goodwin mengenai kafe-kafe di Istanbul dalam serial
detektif Yashim yang hidup di era Utsmani.
Karena
saya tidak ingin menggambarkan suasana kafe (karena sudah ada di miniatur itu)
maka saya mencoba menggambarkan suasana majelis agama dengan suguhan kopi yang mana
sampai hari ini di Yaman sendiri acapkali disuguhkan gelas-gelas kecil berisi
kopi bagi para jamaah yang hadir. Sensasi ngopi sambil menikmati suasana ilmiah
pembahasan kitab-kitab sampai hari ini juga masih dilestarikan para santri di
pesantren-pesantren Nusantara, khususnya Jawa, dengan sebelumnya mengirim pahala
bacaan alfatihah yang ditujukan khusus kepada para syaikh penemu dan pelestari
budaya ngopi dengan menghaturkan tartibul-faatihah lisyurbil-qahwah (Pembacaan
Al fatihah untuk Minum Kopi).
Jadi,
angkat gelas kopinya, bismillah, dan seruputlah dengan nikmat.
ثم اعلم ايها القلب المكروب أن هذه القهوه قد جعلها اهل الصفاء مجلبة
للأسرار مذهبة للأكدار
"Kemudian, ketahuilah duhai hati yang merana, bahwa
orang-orang saleh yang suci hatinya telah menjadikan kopi sebagai pengundang
akan datangnya cahaya dan rahasia Tuhan, juga penghapus kesusahan"



Komentar
Posting Komentar